Tampilkan postingan dengan label Anti-decubituss mattrass. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anti-decubituss mattrass. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Maret 2011

Bila Orang Tua Memasuki Usia Senja

Sebagai seorang anak, sudah menjadi kewajiban kita untuk berbakti pada orangtua. Terlebih lagi jika orangtua kita sudah berusia lanjut, dimana biasanya kondisi tubuh mereka mulai lemah dan sakit-sakitan. Untuk itu, perlu kiranya kita sebagai anak mengetahui bagaimana cara merawat orangtua dengan baik. Pada kesempatan kali ini, akan dibahas mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan permasalahan kesehatan yang biasa terjadi pada orang yang telah lanjut usia dan bagaimana kita bisa membantu mereka dalam menjalani hari-hari di usia senja.



Rabu, 01 September 2010

TEMPAT TIDUR PASIEN (MANUAL & ELEKTRIK)

Untuk merawat pasien di rumah (homecare) yang mengharuskan pasien untuk istirahat terus di tempat tidur, maka harus disediakan tempat tidur khusus pasien yang dapat membuat pasien merasa nyaman dan aman.

Ada 2 jenis tempat tidur pasien yaitu tempat tidur manual dan tempat tidur elektrik.
  • Tempat tidur manual ada beberapa tipe, dibedakan berdasarkan putaran/engkolnya. Umumnya ada 1-3 putaran : naikkan
    punggung saja (1-crank), naikkan punggung dan naikkan kaki (2-crank), serta naikkan punggung, naikkan kaki dan naik-turun seluruh badan (3-crank). Cara mengoperasikan tempat tidur ini adalah dengan cara memutar bagian putaran/engkol tersebut. Cara memutarnya cukup mudah, untuk menaikkan misalnya, putarlah putaran/engkol tersebut searah jarum jam hingga tinggi yang dibutuhkan. Untuk menurunkannya dengan memutar berlawanan arah jarum jam. Biasanya putaran/engkol tersebut ada di bagian kaki tempat tidur. Yang mengoperasikannya bisa keluarga pasien atau perawat. Beratnya putaran disesuaikan dengan berat badan pasien yang ada di tempat tidur tersebut.
  • Tempat tidur elektrik pun ada beberapa tipe, dibedakan berdasarkan putaran/engkolnya. Umumnya ada 1-4 putaran : naikkan
    punggung saja (1-crank), naikkan punggung dan naikkan kaki (2-crank), naikkan punggung, naikkan kaki dan naik-turun seluruh badan (3-crank), & naikkan punggung, naikkan kaki dan naik-turun seluruh badan serta miring naik/turun seluruh badan (4-crank). Cara mengoperasikan tempat tidur ini adalah dengan menekan tombol intruksi (gambar) yang terdapat pada remote control tempat tidur tersebut. Biasanya remote control tersebut ada di bagian pagar pengaman sisi kiri pasien. Yang mengoperasikannya bisa keluarga pasien, perawat ataupun pasien itu sendiri. Beratnya putaran disesuaikan dengan berat badan pasien yang ada di tempat tidur tersebut. Bila menggunakan tempat tidur elektrik ini harus menggunakan genset bagi daerah tempat tinggal yang sering mengalami aliran listrik mati (mati lampu) karena bila hal itu terjadi dan tanpa genset, maka tempat tidur elektrik ini tidak dapat menjalankan fungsinya.

Pada dasarnya kedua jenis tempat tidur tersebut mempunyai fungsi yang sama, hanya sistem pemakaiannya berbeda. (en/pt/ap)

Rabu, 28 April 2010

Waspadai Serangan Afasia pasca-Stroke

Stroke bukan hanya mengakibatkan seseorang terkena dampak lumpuh, tetapi juga bisa menyebabkan seseorang menjadi afasia (kesulitan bicara dan berkomunikasi).

Dokter spesialis saraf Omni Hospital Pulomas, dr Ronny Yoesyanto SpS mengatakan penyakit stroke merupakan gangguan pembuluh darah otak yang terjadi tiba-tiba. Kasusnya bisa berupa penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah sehingga mengakibatkan pendarahan di otak. Salah satu efek dari stroke adalah afasia yakni seseorang tidak dapat lagi berkomunikasi atau sulit berbicara.

Umumnya, tingkat keparahan dan luasnya cakupan penderita afasia tergantung lokasi dan keparahan cedera otak. Sementara itu, dokter spesialis bedah saraf Prof Dr Sidiarto Kusumoputro SpS mengatakan afasia merupakan salah satu dampak yang ditimbulkan dari penyakit stroke.

"Afasia atau gangguan berbahasa adalah ketidakmampuan orang untuk melakukan komunikasi linguistik,” jelas Sidiarto.

Read more

Selasa, 09 Maret 2010

Mengenal Kanker Kolon

Colorectal Cancer atau dikenal sebagai Ca. Colon atau Kanker Usus Besar adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi pada kolon, rektum, dan appendix (usus buntu). Di negara maju, kanker ini menduduki peringkat ke tiga yang paling sering terjadi, dan menjadi penyebab kematian yang utama di dunia barat. Untuk menemukannya diperlukan suatu tindakan yang disebut sebagai kolonoskopi, sedangkan untuk terapinya adalah melalui pembedahan diikuti kemoterapi.

 

Gejala

Mula-mula gejalanya tidak jelas, seperti berat badan menurun (sebagai gejala umum keganasan) dan kelelahan yang tidak jelas sebabnya. Setelah berlangsung beberapa waktu barulah muncul gejala-gejala lain yang berhubungan dengan keberadaan tumor dalam ukuran yang bermakna di usus besar. Makin dekat lokasi tumor dengan anus biasanya gejalanya makin banyak. Bila kita berbicara tentang gejala tumor usus besar, gejala tersebut terbagi tiga, yaitu gejala lokal, gejala umum, dan gejala penyebaran (metastasis).


Gejala lokalnya adalah :

Senin, 08 Maret 2010

Posisi tidur Pasien Stroke

Mengatur posisi di tempat tidur

Stroke berhubungan erat dengan sistem sirkulasi darah, maka posisi tidur dan kelengkapan yang digunakan menjadi hal yang penting untuk diketahui. Sebaiknya pasien menggunakan tempat tidur yang lebih padat atau hindari penggunaan kasur yang terlalu empuk demikian juga dengan bantal, karena penggunaan kasur serta bantal yang terlalu empuk akan mempengaruhi peredaran darah pasien.

Umumnya pasien paska stroke akan mengalami kondisi imobilisasi atau kurang gerak karena menurunnya kemampuan fungsional pasien/klien. Dengan adanya kurang gerak tersebut, maka beberapa komplikasi yang dimungkinkan terjadi seperti pembentukan bekuan darah, dekubitus, pnemonia, kontraktur otot, keterbatasan gerak sendi, dll.

Untuk mencegah komplikasi tersebut maka pasien perlu untuk diposisikan atau reposisikan saat diatas tempat tidur. Adapun prosedur yang sebaiknya dilakukan adalah :

Senin, 22 Februari 2010

EDUKASI STROKE BAGI KELUARGA PASIEN

Keluarga pasien Stroke berperan sangat penting dalam upaya meningkatkan kemampuan fisik penderita Stroke

Stroke adalah penyakit pada otak yang paling destruktif dengan konsekuensi berat, termasuk beban psikologis, fisik, dan keuangan yang besar pada pasien. Pada kenyataannya, banyak orang yang lebih takut akan menjadi cacat oleh stroke dibandingkan dengan kematian itu sendiri. Jika tidak ada perbaikan dalam metode-metode pencegahan yang ada sekarang, jumlah penderita stroke akan tumbuh pesat dalam beberapa decade mendatang.

Penanganan fisioterapi pasca stroke adalah kebutuhan yang mutlak bagi pasien untuk dapat meningkatkan kemampuan gerak dan fungsinya. Berbagai metode intervensi fisioterapi seperti pemanfaatan electrotherapy, hidrotherapy , exercise therapay (Bobath method, Proprioceptive Neuromuscular Facilitation, Neuro Developmental Treatment, Sensory Motor Integration, dll..) telah terbukti memberikan manfaat yang besar dalam mengembalikan gerak dan fungsi pada pasien pasca stroke. Akan tetapi peran serta keluarga yang merawat dan mendampingi pasien juga sangat menentukan keberhasilan program terapi yang diberikan.

Penanganan fisioterapi pasca stroke pada prinsipnya adalah proses pembelajaran sensomotorik pada pasien dengan metode-metode tersebut diatas. Akan tetapi interaksi antara pasien dan fisioterapis amat sangat terbatas, lain halnya dengan keluarga pasien yang memiliki waktu relatif lebih banyak. Dampak lain adalah dengan penanganan yang salah akan menghasilkan proses pembelajaran sensomotorik yang salah pula. Hal ini justru akan memperlambat proses perkembangan gerak.

Untuk itu dengan program “edukasi bagi keluarga pasien stroke” mengenai tata cara penanganan pasien stroke di rumah (home programe) akan sangat bermanfaat dalam mengembalikan kemampuan gerak dan fungsi pada pasien pasca stroke. Penanganan yang tepat sebagai wujud cinta kasih dalam keluarga.

Read more...

Selasa, 30 Juni 2009

PENGALAMAN IBU POPPIE MERAWAT PASIEN YANG TERKENA LUKA DEKUBITUS


Luka pada orang normal bisa sembuh atau mengering dengan cepat, namun bagi penderita Diabetes Mellitus (DM) dan juga stroke penyembuhan luka lecet memerlukan waktu lama dan harus segera diobati hingga tuntas. Kadang pengobatannya harus diberi antibiotik untuk mencegah parahnya luka. Jika kondisi luka lebih parah bahkan membusuk, maka bisa jadi bagian yang busuk itu harus diamputasi.

MENGATASI LUKA DEKUBITUS

Awalnya sepulang rawat inap dari Rumah Sakit, saya temukan ada bekas luka di lipatan pinggul kiri Iman (Alm. suami saya). Mungkin karena waktu tidur Iman menghadap satu sisi dalam jangka waktu lama. Saya pikir lipatan itu akan hilang dengan sendirinya. Menurut Ivo, luka itu adalah dekubitus yaitu luka tekan akibat posisi [pasien] yang tak berubah. Luka ini umum ditemukan pada pasien yang imobilisasi seperti Iman.

Hanya selang beberapa hari, saya diberitahu oleh perawat bahwa luka lecet dipinggul kiri makin membesar dan bernanah, sedangkan luka di pangkal lengan kiri melepuh. Kemungkinan luka-luka tersebut akibat gesekan kulit terhadap slinger hoist (crane atau alat bantu untuk memindahkan pasien) waktu memindahkan Iman dari tempat tidur ke kursi roda saat waktu mandi. Karena khawatir gesekan slinger-nya akan menyebabkan lukanya membesar, maka sementara ini rutinitas memandikan Iman di kamar mandi dan duduk di kursi roda ditiadakan.


Untuk perawatan luka, pada bagian luka dioles
Nebacetin ointment dan luka sengaja tidak ditutup rapat agar terkena udara. Agar luka tidak tertekan atau terkena gesekan, perhatikan posisi tidur seperti terlentang atau dimiringkan ke bagian yang tidak ada luka. Jika dimiringkan pada bagian yang terdapat luka berilah penyangga berbentuk donat (gulungan kasa besar yg dibentuk menyerupai donat) sehingga bagian luka akan berada diantara cekungan donat). Tujuannya agar luka tersebut tidak tersentuh permukaan dan mudah mengering.


MANFAAT BUAH TEKOKAK UNTUK LUKA

Suatu hari salah seorang teman saya, Maya menyarankan untuk memakai tekokak untuk mengeringkan luka. Caranya: read more...

Selasa, 16 Juni 2009

LUKA DECUBITUS & PENCEGAHANNYA

Pasien yang terus menerus berbaring di tempat tidur atau kursi roda biasanya akan mengalami luka lecet, yang disebut decubitus. Luka lecet ini akibat 'tekanan (berat tubuh)' atau umum disebut "bed-sore". Luka ini biasa terjadi pada pasien yang imobilitas, artinya posisi tubuh pasien tidak berubah dalam jangka waktu lama.
Jangan sepelekan luka lecet ini, apalagi bagi penderita Diabetes Melitus (DM).


PENCEGAHAN DECUBITUS
Untuk informasi selengkapnya mengenai decubitus bisa baca di media Griyakami Homecare atau disini.


Note:
Griyakami Homecare menyewakan kasur anti-decubitus dan alat kesehatan lainnya. Untuk keterangan lebih lanjut silahkan hubungi kami di (022) 7272416 atau 70567946-48.

Griyakami Homecare mengucapkan terima kasih kepada :
- Mutiara Jasmin (Iin) dan Ivo Sahbandar (Ivo) atas share informasi mengenai decubitus [via Friendster, pengalaman Ibu Poppie dalam merawat Bp. Immanuddin Iskandar]
- Maya Wardhani atas info-share mengenai 'buah tekokak-pengering luka'... sudah dibuktikan kok kemanjurannya.
- serta seluruh rekan2 yang peduli akan kesehatan. (endah)